By : Triono Akhmad Munib
Kondisi hubungan internasional yang berubah secara siginifikan pasca Perang Dingin menjadi sebuah titik dasar bangkitnya aktor-aktor transnasionalisme dewasa ini. Aktor negara yang tidak lagi menjadi sebuah the single actor menjadi menarik untuk dikaji yang membentuk sebuah diskurus ilmu baru dalam hubungan internasional yaitu transnasionalisme. Transnasionalisme diartikan sebagai proses “di mana hubungan internasional yang dilaksanakan oleh pemerintah telah disertai oleh hubungan indibidu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsungnya berbagai peristiwa” (Rosenau 1980:1).
Masih berkutat pada pengertian tentang transnasionalisme di atas bahwa hubungan internasional yang tidak lagi di dominasi oleh negara melainkan adanya aktor non-negara seperti: Multinational Corporations (MNCs), kelompok kepentingan, kelompok bisnis, dan bisa indvidu membuat studi hubungan internasional saat ini menjadi berwarna. Sesuai dengan apa yang diungkapkan kaum pluralis bahwa hubungan transnasional di antar rakyat dari negara-negara yang berbeda membantu menciptakan bentuk baru masyarakat manusia yang hadir sepanjang atau bahkan dalam persaingan dengan negara-bangsa. Dengan dunia yang semakin pluralis yang bercirikan dengan jaringan transnasional individu dan kelompok akan menjadi lebih damai. Dalam beberapa hal, dunia pluralis semakin tidak stabil, sebab tatanan lama yang dibanggun berdasarkan kekuasaan negara telah hancur. Munculnya aktor transnasionalisme di atas memberikan dampak atas hilangnya sebuah kontrol dan kemampuan negara dalam menghadapi aktor transnasionalisme itu sendiri.
Berkaitan dengan lepasnya kontrol negara aktor transnasional seringkali melemahkan bargaining position suatu negara. Multinational Corporations (MNCs) sering kali lebih kuat dibandingkan bergaining position dari suatu negara. Sebagai contoh yang terjadi di Indonesia pada tahun 1960-an di mana pihak asing melakukan intervensi terhadap pembuatan UU Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia yang sebelumnya membatasi ruang gerak MNCs. Sebelumnya pihak asing hanya boleh memiliki saham sampai dengan 5% sehingga hal ini menyebabkan ketidakleluasaan pihak asing untuk menguasai Indonesia. Pihak asing tidak puas dengan hanya dengan mendapatkan 5% dari saham di Indonesia, melalui intervensi dalam perubahan UU Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1968, pihak asing boleh memiliki saham sampai dengan 49%. Seiring berjalannya waktu pihak asing semakin bebas menguasai Indonesia karena pihak asing boleh memiliki saham sampai dengan 95%. Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa negara tidak lagi memiliki power untuk menentukan kehendaknya sendiri. MNCs yang notabene sebagai aktor transnasional datang menanamkan investasinya dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI). Kuatnya lobi dengan dibungkus oleh perbaikan kesejahteraan (penyerapan tenaga kerja) oleh MNCs membuat sebuah negara, khusunya negara berkembang meng-‘iya’ kan saja apa yang diinginkan MNCs. Dalam hal UU PMA yang seharusnya Indonesia yang merupakan aktor state memiliki porsi yang lebih tinggi ternyata status ‘state’ tersebut pun juga tidak menjamin kuatnya power dalam hal bargaining position. Pemerintah Indonesia yang semestinya berhak mengontrol dan memanajemen segala bentuk investasi dengan regulasi-regulasi yang diciptakan ternyata menjadi powerless ketika dihadapkan dengan kuatnya lobi aktor transnasional dalam bentuk MNCs di atas.
Sunday, 31 October 2010
Saturday, 23 October 2010
Coca-Cola, Israel, dan Amerika : Sebuah Tinjauan Transnasionalisme
By : Triono Akhmad Munib
Kita mungkin sudah tak asing lagi mendengar kata-kata Israel, Palestina, Jalur Gaza, dan Yahudi. Itulah sedikit kata-kata yang sering muncul dalam surat kabar, internet jika terdapat berita konflik di Timur Tengah. Konflik Israel-Palestina memang sudah berlangsung lama dan sudah tak bisa dihitung lagi berapa jumlah korban yang berjatuhan baik penduduk sipil maupun militer antara kedua negara. Tapi di sini, kita tidak akan membahas sejarah terbentunknya negara Israel yang berimplikasi kepada mengapa konflik itu bisa terjadi namun akan dibahas tentang dari mana dana Israel untuk membiayai persenjataannya sehingga bisa terus eksis melancarkan serangan ke warga-warga Palestina.
Seperti yang diketahui bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) adalah saudara kandung. "Kejahatan" mereka terhadap bangsa Palestina atau Libanon, tak lepas dari dukungan beberapa perusahaan raksasa yang kini kita ikut membelinya yang salah satunya adalah perusahaan minuman ringan, Coca Cola Company. Sesuai dengan konsep transnasionalisme bahwa proses di mana “hubungan internasional yang dilaksanakan oleh pemerintah telah disertai oleh hubungan indibidu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsu,ngnya berbagai peristiwa” (Rosenau 1980:1). Terlihat bahwa hubungan antar negara, yaitu AS-Israel telah melibatkan perusahaan yang notabene sebagai aktor no-state di dalamnya. Sekedar catatan, Coca-cola sudah berperan aktif untuk mendanai kejahatan zionisme Yahudi secara konsisten sejak tahun 1966 .
Manipulasi Amerika
Dalam hal ini Amerika yang selalu berkedok bahwa alasan mereka ingin dan turut membantu serangan Israel ke Palestina dalam hal ini Jalur Gaza yang merupakan titik utama konflik guna membantu Israel mendapatkan “tanahnya” kembali sesuai dengan doktrin tanah perjanjian merupakan sebuah manipulasi dan akal-akalan AS semata. Amerika telah membohongi dunia internasional. Di sini ada sebuah tekanan dari dalam negeri AS sendiri terkait masalah globalisasi dan ekspansi pasar global. Dalam hal ini, Coca Cola yang terus membantu mendanai Israel meminta sebuah timbal balik, yaitu dengan Israel bisa menguasai tanah Palestina maka akan semakin mudah bagi Coca Cola meluaskan pasarnya di sana. Produk Coca Cola dan Fanta banyak di Palestina . Terdapat sebuah kisah Nabil, seorang warga Qalqiya, bersama dengan ibu, istri, dan anak-anaknya pada suatu hari membeli sepetak tanah untuk dibangun sebuah vila yang indah. Ketika ia membelinya, tanah itu menghadap ke hamparan bukit dan lembah, terdiri atas berbagai tumbuhan dan pepohonan. Setiap sore hari di musim panas, anak-anak akan bermain di taman yang luas itu. Kemudian Israel merampas sebagian besar tanahnya dan hanya menyisakan 10 meter dari gerbang depan untuk dibangun tembok setinggi delapan meter dengan tebal tiga meter dari ujung kanan hingga ujung kiri, mengelilingi bekas tanah Nabil untuk pembangunan .
Kembali kepada konsep transnasionalisme bahwa keakraban Israel dan AS tidak bisa dipandang semata-mata hubungan antar dua negara yang masing-masing memiliki alasan rasional. Namun, aktor non-state yang dalam fenomena di atas adalah perusahaan Coca Cola milik AS turut campur di dalamnya yang juga turut mempengaruhi hubungan keduanya. Terlebih AS sangat rapi dalam membungkus manipulasi yang dibuatnya. Mungkin bisa dikaitkan dengan peribahasa “sambil menyelam minum air”. Sambil AS terus mendanai dan membantu Israel yang katanya untuk mendapatkan haknya atas tanah perjanjian saat itu pun semakin dikuasainya tanah Palestina dengan terus memasukkan dan mengekspansi MNCs-nya. Dalam negeri AS pasar sudah tidak bisa di perluas lagi lalu kemanakah barang ini akan dijual?. Negara lain adalah jawabannya yang salah satunya adalah tanah Palestina. Ada hubungan kerjasama di mana Kamar Dagang Amerika-Zionis Israel (AICC) akan mencari peluang bisnis di Amerika Serikat untuk mendanai proyek-proyek di zionis Israel atas nama negara zionis Israel. Sebagai contoh, imigrasi dibayar untuk memindahkan orang-orang Yahudi dari sebuah negara ke zionis Israel.
Selain itu, masih sederet perusahaan raksasa yang jelas-jelas banyak memberi andil pada Israel. Termasuk diantaranya Starbuck Coffee dan McDonald. McDonald mempunyai 30,000 restoran di 121 buah negara serata dunia. CEO Mc Donald, Jack M. Greenberg, adalah anggota Dewan Perdagangan dan Industri Amerika-Israel. McDonald Corporation adalah perusahaan yang ikut menyumbang besar ekonomi dan diplomatik Israel . Ada pula Nestle, yang produknya banyak dipakai di Indonesia. Nestle pernah menerima Anugerah Jubilee dari Perdana Menteri Netanyahu. Selain Nestle, pada tahun 1998, Roger S. Fineon, wakil perusahaan Johnson & Johnson, menerima anugerah serupa Jubilee dariPerdana Menteri Israel Netanyahu .
Penghargaan Untuk Perusahaan Terbaik Pendukung Zionis
Banyak disebutkan bahwa Coca-Cola mendukung negara zionis Israel, tapi belum banyak orang yang mengungkapkannya secara terbuka. Coca Cola mendapatkan penghargaan dari AICC (kongsi dagang AS-Israel) atas sumbangsihnya kepada zionis Israel. Coca-Cola mensponsori pelatihan dan pendidikan bagi para pekerja mengenai ideologi Zionisme. Semua itu ada di situs-situs web, di laporan-laporan penelitian. Juga, Coca-Cola telah membangun sebuah pabrik di Qiryat, di atas tanah Palestina. Dan dikatakan bahwa Coca-Cola membangun pabrik itu bekerjasama dengan Israel dalam upaya mempekerjakan para pemukim miskin .
Setelah dijelaskan sebuah fenomena di atas, ditekankan kembali bahwa hubungan internasional saat ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah hubungan state to state yang tidak ada aktor lain selain itu. Melainkan hubungan antar negara juga sedikit banyak dipengaruhi oleh aktor non-state, individu, kelompok kepentingan yang juga turut membuat hubungan internasional dewasa ini menjadi semakin kompleks. Alasan AS membantu Israel untuk mendapatkan haknya atas “tanah perjanjian” merupakan sebuah kebohongan yang ditutupi dan penuh manipuolasi. Perlu dianalisa ulang bahwa ada sebuah aktor non-state berupa perusahaan multinasional akan kebutuhannya berkekspansi secara global
Kita mungkin sudah tak asing lagi mendengar kata-kata Israel, Palestina, Jalur Gaza, dan Yahudi. Itulah sedikit kata-kata yang sering muncul dalam surat kabar, internet jika terdapat berita konflik di Timur Tengah. Konflik Israel-Palestina memang sudah berlangsung lama dan sudah tak bisa dihitung lagi berapa jumlah korban yang berjatuhan baik penduduk sipil maupun militer antara kedua negara. Tapi di sini, kita tidak akan membahas sejarah terbentunknya negara Israel yang berimplikasi kepada mengapa konflik itu bisa terjadi namun akan dibahas tentang dari mana dana Israel untuk membiayai persenjataannya sehingga bisa terus eksis melancarkan serangan ke warga-warga Palestina.
Seperti yang diketahui bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) adalah saudara kandung. "Kejahatan" mereka terhadap bangsa Palestina atau Libanon, tak lepas dari dukungan beberapa perusahaan raksasa yang kini kita ikut membelinya yang salah satunya adalah perusahaan minuman ringan, Coca Cola Company. Sesuai dengan konsep transnasionalisme bahwa proses di mana “hubungan internasional yang dilaksanakan oleh pemerintah telah disertai oleh hubungan indibidu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsu,ngnya berbagai peristiwa” (Rosenau 1980:1). Terlihat bahwa hubungan antar negara, yaitu AS-Israel telah melibatkan perusahaan yang notabene sebagai aktor no-state di dalamnya. Sekedar catatan, Coca-cola sudah berperan aktif untuk mendanai kejahatan zionisme Yahudi secara konsisten sejak tahun 1966 .
Manipulasi Amerika
Dalam hal ini Amerika yang selalu berkedok bahwa alasan mereka ingin dan turut membantu serangan Israel ke Palestina dalam hal ini Jalur Gaza yang merupakan titik utama konflik guna membantu Israel mendapatkan “tanahnya” kembali sesuai dengan doktrin tanah perjanjian merupakan sebuah manipulasi dan akal-akalan AS semata. Amerika telah membohongi dunia internasional. Di sini ada sebuah tekanan dari dalam negeri AS sendiri terkait masalah globalisasi dan ekspansi pasar global. Dalam hal ini, Coca Cola yang terus membantu mendanai Israel meminta sebuah timbal balik, yaitu dengan Israel bisa menguasai tanah Palestina maka akan semakin mudah bagi Coca Cola meluaskan pasarnya di sana. Produk Coca Cola dan Fanta banyak di Palestina . Terdapat sebuah kisah Nabil, seorang warga Qalqiya, bersama dengan ibu, istri, dan anak-anaknya pada suatu hari membeli sepetak tanah untuk dibangun sebuah vila yang indah. Ketika ia membelinya, tanah itu menghadap ke hamparan bukit dan lembah, terdiri atas berbagai tumbuhan dan pepohonan. Setiap sore hari di musim panas, anak-anak akan bermain di taman yang luas itu. Kemudian Israel merampas sebagian besar tanahnya dan hanya menyisakan 10 meter dari gerbang depan untuk dibangun tembok setinggi delapan meter dengan tebal tiga meter dari ujung kanan hingga ujung kiri, mengelilingi bekas tanah Nabil untuk pembangunan .
Kembali kepada konsep transnasionalisme bahwa keakraban Israel dan AS tidak bisa dipandang semata-mata hubungan antar dua negara yang masing-masing memiliki alasan rasional. Namun, aktor non-state yang dalam fenomena di atas adalah perusahaan Coca Cola milik AS turut campur di dalamnya yang juga turut mempengaruhi hubungan keduanya. Terlebih AS sangat rapi dalam membungkus manipulasi yang dibuatnya. Mungkin bisa dikaitkan dengan peribahasa “sambil menyelam minum air”. Sambil AS terus mendanai dan membantu Israel yang katanya untuk mendapatkan haknya atas tanah perjanjian saat itu pun semakin dikuasainya tanah Palestina dengan terus memasukkan dan mengekspansi MNCs-nya. Dalam negeri AS pasar sudah tidak bisa di perluas lagi lalu kemanakah barang ini akan dijual?. Negara lain adalah jawabannya yang salah satunya adalah tanah Palestina. Ada hubungan kerjasama di mana Kamar Dagang Amerika-Zionis Israel (AICC) akan mencari peluang bisnis di Amerika Serikat untuk mendanai proyek-proyek di zionis Israel atas nama negara zionis Israel. Sebagai contoh, imigrasi dibayar untuk memindahkan orang-orang Yahudi dari sebuah negara ke zionis Israel.
Selain itu, masih sederet perusahaan raksasa yang jelas-jelas banyak memberi andil pada Israel. Termasuk diantaranya Starbuck Coffee dan McDonald. McDonald mempunyai 30,000 restoran di 121 buah negara serata dunia. CEO Mc Donald, Jack M. Greenberg, adalah anggota Dewan Perdagangan dan Industri Amerika-Israel. McDonald Corporation adalah perusahaan yang ikut menyumbang besar ekonomi dan diplomatik Israel . Ada pula Nestle, yang produknya banyak dipakai di Indonesia. Nestle pernah menerima Anugerah Jubilee dari Perdana Menteri Netanyahu. Selain Nestle, pada tahun 1998, Roger S. Fineon, wakil perusahaan Johnson & Johnson, menerima anugerah serupa Jubilee dariPerdana Menteri Israel Netanyahu .
Penghargaan Untuk Perusahaan Terbaik Pendukung Zionis
Banyak disebutkan bahwa Coca-Cola mendukung negara zionis Israel, tapi belum banyak orang yang mengungkapkannya secara terbuka. Coca Cola mendapatkan penghargaan dari AICC (kongsi dagang AS-Israel) atas sumbangsihnya kepada zionis Israel. Coca-Cola mensponsori pelatihan dan pendidikan bagi para pekerja mengenai ideologi Zionisme. Semua itu ada di situs-situs web, di laporan-laporan penelitian. Juga, Coca-Cola telah membangun sebuah pabrik di Qiryat, di atas tanah Palestina. Dan dikatakan bahwa Coca-Cola membangun pabrik itu bekerjasama dengan Israel dalam upaya mempekerjakan para pemukim miskin .
Setelah dijelaskan sebuah fenomena di atas, ditekankan kembali bahwa hubungan internasional saat ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah hubungan state to state yang tidak ada aktor lain selain itu. Melainkan hubungan antar negara juga sedikit banyak dipengaruhi oleh aktor non-state, individu, kelompok kepentingan yang juga turut membuat hubungan internasional dewasa ini menjadi semakin kompleks. Alasan AS membantu Israel untuk mendapatkan haknya atas “tanah perjanjian” merupakan sebuah kebohongan yang ditutupi dan penuh manipuolasi. Perlu dianalisa ulang bahwa ada sebuah aktor non-state berupa perusahaan multinasional akan kebutuhannya berkekspansi secara global
Tuesday, 5 October 2010
Globalisasi dan Perubahan Gaya Hidup
By : Triono Akhmad Munib
Peradaban manusia di era ini telah menunjukkan perbuahan yang sangat pesat dan patut diperbincangkan. Hantaman globalisasi saat ini telah menjadi sebuah momok yang terus menghantui dan berkecimpung dalam sendi-sendi kehidupan kita. Bahkan bisa diakatakan kita saat ini tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi, dan parahnya pulan telah merubah gaya hidup kita
Di abad ke-21 yang semakin modern ini, globalisasi menjadi hal yang biasa bagi kita. Globalisasi, berarti proses yang mendunia dan sebuah upaya untuk membentuk sebuah norma dan pola yang universal dan homogen. Tentunya, semua aspek kehidupan merasakan pengaruhnya. Misalnya, di bidang transportasi. Setiap hari kita dapat melihat seluruh jalan raya dipadati oleh berbagai jenis kendaraan bermotor dan berbagai merk. Contohnya mobil. Padahal, sebelum mobil ditemukan, biasanya orang akan berjalan kaki untuk menempuh suatu perjalanan, bahkan yang sangat dalam jarak panjang sekalipun. Selain di bidang transportasi, aspek kehidupan yang terkena dampak globalisasi adalah telekomunikasi. Saat ini handphone adalah alat komunikasi yang sudah dimiliki oleh setiap orang. Handphone yang dulunya merupakan sebuah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh masyarakat kelas elite. Namun seiring dengan adanya globalisasi dan pembukaan perdagangan beas membuat arus pergeseran handphone menjadi sedemikian cepat hinggan bisa dinikmati oleh kaum ekonomi terendah sekalipun. Selain handphone, yang tak kalah penting adalah internet. Globalisasi seperti mengharuskan kita untuk memiliki komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet. Dengan internet kita bisa terhubung dengan masyarakat nan jauh di sana yang melintasi benua bahkan kawasan dunia. Internet seakan membuat jarak dan waktu bukanlah sebuah hambatan yang vital
Di bidang bisnis kuliner, pengaruh globalisasi juga cukup besar. Makanan khas Barat menjadi sangat populer di seluruh dunia. Contohnya Pizza Hut, KFC, CFC, Hoka Hoka Bento, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan makanan khas dalam negeri menjadi kurang diminati dan juga industri kuliner dalam negeri mengalami persaingan yang cukup kuat. Yang tak kalah penting, aspek kehidupan yang juga merasakan dampak globalisasi adalah fashion. Jika dianalisa kembali, Indonesia yang identik dengan budaya Timur sudah kehilangan arahnya. Kita telah bangga memakai produk fashion gaya Barat yang di mana di satu sisi bertentangan dengan budaya Ke-Timuran kita yang lebih sopan dan tertutup.
Dari beberapa aspek yang saya coba jelaskan tadi, jelas bahwa globalisasi sangat berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan. Setiap orang memang dapat secara langsung merasakan pengaruhnya. Sebagai warga masyarakat yang baik dan objektif, kita harus bisa menghadapi pengaruh globalisasi. Globalisasi akan menjadi ‘milik kita’ dalam arti kita akan bisa eksis dalam kondisi globalisasi ini apabila kita bisa dan pandai dalam menganalisanya. Kita harus bisa mengambil nilai-nilai positif dan membuang nilai-nilai negatifnya. Misalnya, dengan melakukan seleksi budaya asing yang masuk ke dalam negeri kita. Kita harus bisa memilih budaya yang baik, yang tidak bertentangan dan bisa diimplementasikan dengan norma-norma yang ada di negeri kita. Karena budaya dalam negeri adalah ciri khas dan jati diri negeri kita sendiri, yang harus kita jaga.
Jadi ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi pengaruh globalisasi yang semakin menghantam peradaban manusia. Kita boleh merasakan pengaruhnya, namun kita harus mengambil dampak positifnya, dan membuang dampak negatifnya.
Peradaban manusia di era ini telah menunjukkan perbuahan yang sangat pesat dan patut diperbincangkan. Hantaman globalisasi saat ini telah menjadi sebuah momok yang terus menghantui dan berkecimpung dalam sendi-sendi kehidupan kita. Bahkan bisa diakatakan kita saat ini tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi, dan parahnya pulan telah merubah gaya hidup kita
Di abad ke-21 yang semakin modern ini, globalisasi menjadi hal yang biasa bagi kita. Globalisasi, berarti proses yang mendunia dan sebuah upaya untuk membentuk sebuah norma dan pola yang universal dan homogen. Tentunya, semua aspek kehidupan merasakan pengaruhnya. Misalnya, di bidang transportasi. Setiap hari kita dapat melihat seluruh jalan raya dipadati oleh berbagai jenis kendaraan bermotor dan berbagai merk. Contohnya mobil. Padahal, sebelum mobil ditemukan, biasanya orang akan berjalan kaki untuk menempuh suatu perjalanan, bahkan yang sangat dalam jarak panjang sekalipun. Selain di bidang transportasi, aspek kehidupan yang terkena dampak globalisasi adalah telekomunikasi. Saat ini handphone adalah alat komunikasi yang sudah dimiliki oleh setiap orang. Handphone yang dulunya merupakan sebuah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh masyarakat kelas elite. Namun seiring dengan adanya globalisasi dan pembukaan perdagangan beas membuat arus pergeseran handphone menjadi sedemikian cepat hinggan bisa dinikmati oleh kaum ekonomi terendah sekalipun. Selain handphone, yang tak kalah penting adalah internet. Globalisasi seperti mengharuskan kita untuk memiliki komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet. Dengan internet kita bisa terhubung dengan masyarakat nan jauh di sana yang melintasi benua bahkan kawasan dunia. Internet seakan membuat jarak dan waktu bukanlah sebuah hambatan yang vital
Di bidang bisnis kuliner, pengaruh globalisasi juga cukup besar. Makanan khas Barat menjadi sangat populer di seluruh dunia. Contohnya Pizza Hut, KFC, CFC, Hoka Hoka Bento, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan makanan khas dalam negeri menjadi kurang diminati dan juga industri kuliner dalam negeri mengalami persaingan yang cukup kuat. Yang tak kalah penting, aspek kehidupan yang juga merasakan dampak globalisasi adalah fashion. Jika dianalisa kembali, Indonesia yang identik dengan budaya Timur sudah kehilangan arahnya. Kita telah bangga memakai produk fashion gaya Barat yang di mana di satu sisi bertentangan dengan budaya Ke-Timuran kita yang lebih sopan dan tertutup.
Dari beberapa aspek yang saya coba jelaskan tadi, jelas bahwa globalisasi sangat berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan. Setiap orang memang dapat secara langsung merasakan pengaruhnya. Sebagai warga masyarakat yang baik dan objektif, kita harus bisa menghadapi pengaruh globalisasi. Globalisasi akan menjadi ‘milik kita’ dalam arti kita akan bisa eksis dalam kondisi globalisasi ini apabila kita bisa dan pandai dalam menganalisanya. Kita harus bisa mengambil nilai-nilai positif dan membuang nilai-nilai negatifnya. Misalnya, dengan melakukan seleksi budaya asing yang masuk ke dalam negeri kita. Kita harus bisa memilih budaya yang baik, yang tidak bertentangan dan bisa diimplementasikan dengan norma-norma yang ada di negeri kita. Karena budaya dalam negeri adalah ciri khas dan jati diri negeri kita sendiri, yang harus kita jaga.
Jadi ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi pengaruh globalisasi yang semakin menghantam peradaban manusia. Kita boleh merasakan pengaruhnya, namun kita harus mengambil dampak positifnya, dan membuang dampak negatifnya.
Friday, 1 October 2010
Suksesi Kepemimpinan dan Masa Depan Korut
By : Triono Akhmad Munib
Sepekan ini media internasional baik elektronik maupun cetak ramai memberitakan proses suksesi kepempimpinan Kim Jong Il kepada pemimpin berikutnya yang gembar-gembor akan diberikan kepada Kim Jong Un, anak lelaki Jong Il. Tetapi bisa dikatakan media massa tersebut membuat sebuah prediski semata karena memang sulit untuk mencari data dan fakta tentang bagaimana proses suksesi yang sebenarnya terjadi di sana. Itu tak lepas dari sistem pemerintahan Korea Utara (Korut) sendiri yang komunis dan sangat menjaga serta berhati-hati atas informasi atas negaranya atau bahkan mengisolasi dirinya terhadap pergaulan dunia. Ada yang menyebutkan suksesi ini dipercepat karena kondisi kesehatan Jong Il yang terus memburuk bahkan ada media yang menyebut sudah meninggal.
Terlepas dari pemberitaan media. Proses suksesi kepemimpinan ini merupakan sebuah era baru dalam menatap masa depan Korut, yang pastinya bisa terus melanggengkan sistem komunis itu sendiri. Mengganti dan mencari sosok Jong Il tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan Jong Un sendiri pun yang notabene anak laki-lakinya belum tentu bisa menyamai gaya kepemimpinan ayahnya. Akan terus dilakukan penggemblengan kepada para calon pengganti Jong Il agar pada saat memimpin tidak mengubah sistem yang telah diciptakan oleh the founding father Korut yaitu mendiang Kim Il Sung ayah dari Kom Jong Il. Menurut berita yang dilansir Kompas pada tanggal 30 September 2010, dalam rapat besar Korut dalam 30 terakhir memberikan Jong Un pangkat jenderal bintang empat. Dan sehari setelah pemberian pangkat tersebut, dalam rapat lanjutan pada Rabu 29 September 2010 Jong Un diberikan posisi strategis yaitu sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Pekerja Korea. Dari fakta di atas mungkin bisa ditarik sebuah prediksi hipotesis bahwa Jong Un kian berkuasa dan bisa jadi salah satu kandidat kuat pengganti ayahnya, Jong Il.
Namun disamping itu, Jong Un yang usianya masih terlalu muda membuatnya kurang akan pengalaman. Dan juga masalah kepribadiannya, menurut teman sekelas Jong Un saat masih bersekolah di Liebefeld-Steinhoelzi Swiss, Joao Micaelo mengatakan bahwa Jong Un adalah sosok seorang yang tampak seperti siswa lainnya yang suka olahraga, nonton film, komputer, dan tentu saja menggoda cewek (Kompas, 30 September 2010). Jong Un menurut Micaelo seorang penggemar basket dan playstation. Game playstation yang paling disukainya adalah basket. Saat itu Jong Un masih berusia 16 tahun. Jika memang pada akhirnya tampuk kekuasaan jatuh ke tangan Jong Un, maka setidaknya ia harus mengubah dirinya menjadi seorang yang bisa menyerupai ayahnya yang penuh dengan kontroversi. Karena ia akan membawa masa depan Korut, apakah masih bisa dipertahankan sistem komunis tersebut atau bisa-bisa berubah menjadi negara yang liberal
Sepekan ini media internasional baik elektronik maupun cetak ramai memberitakan proses suksesi kepempimpinan Kim Jong Il kepada pemimpin berikutnya yang gembar-gembor akan diberikan kepada Kim Jong Un, anak lelaki Jong Il. Tetapi bisa dikatakan media massa tersebut membuat sebuah prediski semata karena memang sulit untuk mencari data dan fakta tentang bagaimana proses suksesi yang sebenarnya terjadi di sana. Itu tak lepas dari sistem pemerintahan Korea Utara (Korut) sendiri yang komunis dan sangat menjaga serta berhati-hati atas informasi atas negaranya atau bahkan mengisolasi dirinya terhadap pergaulan dunia. Ada yang menyebutkan suksesi ini dipercepat karena kondisi kesehatan Jong Il yang terus memburuk bahkan ada media yang menyebut sudah meninggal.
Terlepas dari pemberitaan media. Proses suksesi kepemimpinan ini merupakan sebuah era baru dalam menatap masa depan Korut, yang pastinya bisa terus melanggengkan sistem komunis itu sendiri. Mengganti dan mencari sosok Jong Il tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan Jong Un sendiri pun yang notabene anak laki-lakinya belum tentu bisa menyamai gaya kepemimpinan ayahnya. Akan terus dilakukan penggemblengan kepada para calon pengganti Jong Il agar pada saat memimpin tidak mengubah sistem yang telah diciptakan oleh the founding father Korut yaitu mendiang Kim Il Sung ayah dari Kom Jong Il. Menurut berita yang dilansir Kompas pada tanggal 30 September 2010, dalam rapat besar Korut dalam 30 terakhir memberikan Jong Un pangkat jenderal bintang empat. Dan sehari setelah pemberian pangkat tersebut, dalam rapat lanjutan pada Rabu 29 September 2010 Jong Un diberikan posisi strategis yaitu sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Pekerja Korea. Dari fakta di atas mungkin bisa ditarik sebuah prediksi hipotesis bahwa Jong Un kian berkuasa dan bisa jadi salah satu kandidat kuat pengganti ayahnya, Jong Il.
Namun disamping itu, Jong Un yang usianya masih terlalu muda membuatnya kurang akan pengalaman. Dan juga masalah kepribadiannya, menurut teman sekelas Jong Un saat masih bersekolah di Liebefeld-Steinhoelzi Swiss, Joao Micaelo mengatakan bahwa Jong Un adalah sosok seorang yang tampak seperti siswa lainnya yang suka olahraga, nonton film, komputer, dan tentu saja menggoda cewek (Kompas, 30 September 2010). Jong Un menurut Micaelo seorang penggemar basket dan playstation. Game playstation yang paling disukainya adalah basket. Saat itu Jong Un masih berusia 16 tahun. Jika memang pada akhirnya tampuk kekuasaan jatuh ke tangan Jong Un, maka setidaknya ia harus mengubah dirinya menjadi seorang yang bisa menyerupai ayahnya yang penuh dengan kontroversi. Karena ia akan membawa masa depan Korut, apakah masih bisa dipertahankan sistem komunis tersebut atau bisa-bisa berubah menjadi negara yang liberal
Friday, 27 August 2010
Akankah Indonesia Berperang dengan Malaysia?
By : Triono Akhmad Munib
Dalam sepekan ini media nasional hangat membicarakan ketegangan hubungan antara Indonesia dengan Malaysia. Hubungan Indonesia dengan Malaysia saat ini sedang mengalami ketegangan dipicu dengan penangkapan pegawai KKP Indonesia oleh Kepolisian Diraja Malaysia dan juga sebaliknya penangkapan tujuh nelayan Malaysia oleh Kepolisian Laut Indonesia. Ketegangan tersebut memang tidak terjadi kali ini saja. Kita tentu masih ingat lepasnya pulau Sipadan-Ligitan yang akhirnya jatuh ke tangan Malaysia. Penganiyaan TKI oleh para majikan di Malaysia merupakan segelintir gesekan hubungan Indonesia dengan Malaysia
Malaysia yang selalu menggembor-gemborkan semboyan ‘satu ras’ dengan Indonesia rasanya semakin bertindak arogan. Bahkan, adanya sebuah rencana Malaysia untuk menjadikan bahasa Melayu menjadi lingua franca Asia Tenggara. Tampaklah sudah ambisi Malaysia untuk menghegemoni Asia Tenggara. Demonstrasi dan protes di Indonesia maupun di Malaysia semakin memperlebar gesekan dan membuat panas masyarakat di kedua negara. Apalagi pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Datuk Seri Anifah Amin berbau provokatif. Menurutnya, kesabaran Malaysia nyaris habis melihat aksi demonstran Indonesia yang menginjak-injak bendera Malaysia. Apalagi, kala itu massa juga melempar kotoran manusia ke kantor yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said itu. Disni muncul sebuah pertanyaan, “akankah Indonesia berperang dengan Malaysia?”.
Malaysia Lebih Unggul
Secara sadar maupun tidak sadar demonstrasi dan aksi protes yang terjadi di kedua negara telah memicu potensi perang. Apalagi, semakin maraknya media massa elektronik maupun cetak yang semakin menggembar-gemborkan berita hubungan Indonesia dan Malaysia. Seperti yang diketahui bahwa media massa merupakan jalan yang cukup efektif untuk mempengaruhi pikirian dan pembentukan opini publik. Bisa dikatakan perang tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Tetapi jika pemerintahan kedua negara menginstruksikan untuk mendealkan perang. Siapa yang akan menang?. Penulis berpendapat Malaysia akan menang. Mengapa?
Kekuatan militer jauh lebih baik dan canggih ketimbang dengan Indonesia. Secara kualitatif perbandingan mesin perang kedua negara adalah 80 : 20. Kasus pencurian ikan oleh tujuh nelayan Malasysia menunjukkan kurang canggihnya peralatan Indonesia sehingga kejadian tersebut bisa terlepas dari pantauan Kepolisian Laut Indonesia. Nelayan saja bisa lolos dari pantuan apalagi nanti jika benar perang. Mungkin tentara Malaysia dengan mudah masuk perairan wilayah Indonesia tanpa terdeteksi radar. Dari kelengkapan persenjataan mulai dari pesawat tempur, kapal selam, tank pun Indonesia masih jauh dari Malaysia. Peralatan militer Indonesia bisa dikatakan sudah tak layak pakai. Kebanyakan peralatan dibeli dari eks Jerman Timur pada saat Perang Dunia 2. Sudah berapa tahun lamanya, jelas sudah ketinggalan jaman. Sedangkan Malaysia terus berupaya meng-update peralatan perangnya yang semakin canggih. Terlebih Malaysia adalah negara persemakmuran Inggris yang sekutu AS sehingga lebih mudah birokrasinya dalam membeli peralatan perang. Masih ingatkah kita setahun yang lalu bahwa AS memboikot pembelian alutista (alat utama sistem senjata) dari Rusia oleh Indonesia tetapi Malaysia diperbolehkan membeli pesawat tempur F-28 dari AS. Di mana, jika pesawat tempur F-18 terbang di langit Indonesia radarnya yang canggih bisa mendeteksi daerah-daerah yang tak dijaga dan rawan diambil alih. Tetapi Indonesia masih memiliki F-16. Dari segi kecanggihannya, jelas sudah canggih F-28.
Tetapi kita masih bisa bernapas lega karena Menlu kita Marty Natalegawa masih menggunakan soft diplomacy dalam menghadapi panasnya hubunga RI-Malaysia. Memang jika terjadi perang, kita bisa bayangkan berapa orang yang akan binasa, infrastruktur yang telah dibangun lama runtuh terkena gempuran rudal. Atau mungkin, saat putra-putri kita keluar rumah hendak bersekolah, ke kampus, bekerja ke kantor tiba-tiba muncul rudal yang menghantam sekolah, universitas, gedung perkantoran seperti yang terjadi dalam konflik Israel-Palestina. Tentu kita tidak mengingingkannya. Ada sedikit guraun, walaupun kita kalah dalam persenjataan dengan Malaysia. Namun, kita masih menang dalam jumlah penduduk. Kerahkan saja seluruh penduduk Indonesia mulai dari artis sampai masyarakat bawah untuk ikut perang. Lucu juga jika artis harus dipersenjatai. Di sini, penulis berpendapat potensi perang masih bisa terjadi dan security dilemma akan menghantui Indonesia
Dalam sepekan ini media nasional hangat membicarakan ketegangan hubungan antara Indonesia dengan Malaysia. Hubungan Indonesia dengan Malaysia saat ini sedang mengalami ketegangan dipicu dengan penangkapan pegawai KKP Indonesia oleh Kepolisian Diraja Malaysia dan juga sebaliknya penangkapan tujuh nelayan Malaysia oleh Kepolisian Laut Indonesia. Ketegangan tersebut memang tidak terjadi kali ini saja. Kita tentu masih ingat lepasnya pulau Sipadan-Ligitan yang akhirnya jatuh ke tangan Malaysia. Penganiyaan TKI oleh para majikan di Malaysia merupakan segelintir gesekan hubungan Indonesia dengan Malaysia
Malaysia yang selalu menggembor-gemborkan semboyan ‘satu ras’ dengan Indonesia rasanya semakin bertindak arogan. Bahkan, adanya sebuah rencana Malaysia untuk menjadikan bahasa Melayu menjadi lingua franca Asia Tenggara. Tampaklah sudah ambisi Malaysia untuk menghegemoni Asia Tenggara. Demonstrasi dan protes di Indonesia maupun di Malaysia semakin memperlebar gesekan dan membuat panas masyarakat di kedua negara. Apalagi pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Datuk Seri Anifah Amin berbau provokatif. Menurutnya, kesabaran Malaysia nyaris habis melihat aksi demonstran Indonesia yang menginjak-injak bendera Malaysia. Apalagi, kala itu massa juga melempar kotoran manusia ke kantor yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said itu. Disni muncul sebuah pertanyaan, “akankah Indonesia berperang dengan Malaysia?”.
Malaysia Lebih Unggul
Secara sadar maupun tidak sadar demonstrasi dan aksi protes yang terjadi di kedua negara telah memicu potensi perang. Apalagi, semakin maraknya media massa elektronik maupun cetak yang semakin menggembar-gemborkan berita hubungan Indonesia dan Malaysia. Seperti yang diketahui bahwa media massa merupakan jalan yang cukup efektif untuk mempengaruhi pikirian dan pembentukan opini publik. Bisa dikatakan perang tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Tetapi jika pemerintahan kedua negara menginstruksikan untuk mendealkan perang. Siapa yang akan menang?. Penulis berpendapat Malaysia akan menang. Mengapa?
Kekuatan militer jauh lebih baik dan canggih ketimbang dengan Indonesia. Secara kualitatif perbandingan mesin perang kedua negara adalah 80 : 20. Kasus pencurian ikan oleh tujuh nelayan Malasysia menunjukkan kurang canggihnya peralatan Indonesia sehingga kejadian tersebut bisa terlepas dari pantauan Kepolisian Laut Indonesia. Nelayan saja bisa lolos dari pantuan apalagi nanti jika benar perang. Mungkin tentara Malaysia dengan mudah masuk perairan wilayah Indonesia tanpa terdeteksi radar. Dari kelengkapan persenjataan mulai dari pesawat tempur, kapal selam, tank pun Indonesia masih jauh dari Malaysia. Peralatan militer Indonesia bisa dikatakan sudah tak layak pakai. Kebanyakan peralatan dibeli dari eks Jerman Timur pada saat Perang Dunia 2. Sudah berapa tahun lamanya, jelas sudah ketinggalan jaman. Sedangkan Malaysia terus berupaya meng-update peralatan perangnya yang semakin canggih. Terlebih Malaysia adalah negara persemakmuran Inggris yang sekutu AS sehingga lebih mudah birokrasinya dalam membeli peralatan perang. Masih ingatkah kita setahun yang lalu bahwa AS memboikot pembelian alutista (alat utama sistem senjata) dari Rusia oleh Indonesia tetapi Malaysia diperbolehkan membeli pesawat tempur F-28 dari AS. Di mana, jika pesawat tempur F-18 terbang di langit Indonesia radarnya yang canggih bisa mendeteksi daerah-daerah yang tak dijaga dan rawan diambil alih. Tetapi Indonesia masih memiliki F-16. Dari segi kecanggihannya, jelas sudah canggih F-28.
Tetapi kita masih bisa bernapas lega karena Menlu kita Marty Natalegawa masih menggunakan soft diplomacy dalam menghadapi panasnya hubunga RI-Malaysia. Memang jika terjadi perang, kita bisa bayangkan berapa orang yang akan binasa, infrastruktur yang telah dibangun lama runtuh terkena gempuran rudal. Atau mungkin, saat putra-putri kita keluar rumah hendak bersekolah, ke kampus, bekerja ke kantor tiba-tiba muncul rudal yang menghantam sekolah, universitas, gedung perkantoran seperti yang terjadi dalam konflik Israel-Palestina. Tentu kita tidak mengingingkannya. Ada sedikit guraun, walaupun kita kalah dalam persenjataan dengan Malaysia. Namun, kita masih menang dalam jumlah penduduk. Kerahkan saja seluruh penduduk Indonesia mulai dari artis sampai masyarakat bawah untuk ikut perang. Lucu juga jika artis harus dipersenjatai. Di sini, penulis berpendapat potensi perang masih bisa terjadi dan security dilemma akan menghantui Indonesia
Tuesday, 17 August 2010
Merdeka Itu Sudah 65 Tahun Yang Lalu
By : Triono Akhmad Munib
“Merdeka……merdeka……merdeka….”. Itulah sekilas cuplikan kata-kata yang muncul di jejaring sosial. Hendaknya kita perlu merefleksi kembali 65 tahun Indonesia merdeka sejak dibacakannya Proklamasi oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945. Apa yang kita bisa dapatkan dari 65 tahun kemerdekaan saat ini. Jelas sudah hanyalah pengakuan kedaulatan dari dunia internasional bahwa Negara Indonesia masih tetap ada beserta batas-batas yuridisnya.
Jika dianalisa kembali, penulis boleh mengatakan merdeka itu sudah 65 tahun yang lalu. Bangsa ini benar-benar merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya pada era Bung Karno. Rakyat benar-benar bisa merasakan betapa merdekanya dirinya. Bisa menikmati hasil sumber daya tanah air serta keberlimpahannya. Enam puluh lima tahun yang lalu itu pun telah membuat Indonesia menjadi aktor penting dalam dunia internasional karena kegigihan Bung Karno yang terus menentang segala arus paham Blok Barat. Sehingga membuat militer Indonesia menjadi salah satu yang ditakuti. Dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin kurun waktu 1953-1963 pernah ditandai dengan aroma diplomasi cantik dan elegan, disertai dengan kebijakan para pemimpin yang tidak mau didikte dan tunduk pada Amerika. Kurun waktu itulah bangsa mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya.
Enam puluh lima tahun berlalu membuat bangsa ini semakin jauh dari rasa ‘merdeka’. Mungkin memang juga dikarenakan sejarah yang semula anti-AS menjadi Negara yang pro-AS pada era Seoharto. Kurun waktu Presiden Soeharto telah membawa pribumi tanah air tergeser rasa kemerdekaannya. Soeharto menjual asset-aset tanah air kepada investor-investor asing. Semakin munculnya gedung-gedung bertingkat yang berdiri di atas lahan produktif. Malahan di sini, adanya pergeseran kemerdekaan dari pribumi ke bangsa asing. Maksudnya?. Bangsa asing bisa leluasa memanfaatkan sumber daya tanah air kita, menjualnya dan uang hasil penjualan untuk pembangunan di Negara asalnya. Sedangkan kita sebagai bangsa pribumi semakin terhimpit dan semakin sulit untuk memperoleh akses sumber daya. Siapa yang merdeka?. Jelas sudah, bangsa lain. Indonesia adalah bangsa dan Negara yang besar. Gemah ripa loh jinawi katanya. Mungkin kita masih belum bisa memanfaatkannya dan celakanya bangsa asing yang pandai memanfaatkannya. Pernah Bung Karno berkata, ‘biarkan sumber daya tanah air kita ini sampai bangsa kita memiliki teknologi untuk megeksplorasinya’. Tetapi tentunya kita tidak akan terus menyalahkan sejarah. Hendaknya sejarah dijadikan pelajaran untuk masa depan kita.
Relfleksi 65 Tahun Merdeka
Di enam puluh lima tahun umur berdirinya Negara ini masih banyak masalah-masalah yang tak kunjung terselesaikan. Dari era Bung Karno sampai era SBY, haruslah kita melihat lagi, perjalanan bangsa ini. Karena dari situ bisa kita jadikan refleksi usaha bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Kita harus meluruskan arah tujuan kita kembali, yg selama ini melenceng karena ulah kita sendiri. Tujuan yg telah kita sepakati 65 tahun yg lalu.
Umur yang sudah mencapi lebih dari setengah abad ini ternyata masalah penggangguran tak kunjung usai. Sesuai dengan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memperkirakan dalam lima tahun ke depan gambaran soal angka pengangguran di Indonesia masih akan suram karena tidak tersedianya lapangan kerja. Masalah hukum pun masih menjadi menu utama saat ini. Hukum masih belum bisa berdiri tegak terlihat dari kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. Hendaknya kita perlu lagi memahami kesepakatan kita yang telah dirintis dan dicita-citakan oleh para fouding fathers kita bahwa ‘Indonesia adalah Negara hukum bukan Negara yang berdasarkan kekuasaan belaka’. Semakin mudahnya saja seorang terdakwa lolos dari jeratan hukum dikarenakan hukum yang selalu memihak si kaya Semua masalah pelik yang selalu muncul menghantui tanah air kita hendaknya semua itu dijadikan sebuah pelajaran bagi kita dan mencoba untuk bangkit kembali.
Di saat seperti ini, mungkin kita rindu Indonesia 65 tahun yang lalu yang bisa merasakan kemerdekaan dalam setiap individu. Tetapi sungguh disayangkan enam puluh lima tahun yang lalu itu tidak bisa dirasakan lagi. Merdeka..…merdeka!! Dirgahayu Republik Indonesia ke-65. ‘Janganlah kau berpikir tentang apa yang diberikan Negara kepadamu, melainkan berpikirlah apa yang bisa kau berikan untuk negara’.
“Merdeka……merdeka……merdeka….”. Itulah sekilas cuplikan kata-kata yang muncul di jejaring sosial. Hendaknya kita perlu merefleksi kembali 65 tahun Indonesia merdeka sejak dibacakannya Proklamasi oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945. Apa yang kita bisa dapatkan dari 65 tahun kemerdekaan saat ini. Jelas sudah hanyalah pengakuan kedaulatan dari dunia internasional bahwa Negara Indonesia masih tetap ada beserta batas-batas yuridisnya.
Jika dianalisa kembali, penulis boleh mengatakan merdeka itu sudah 65 tahun yang lalu. Bangsa ini benar-benar merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya pada era Bung Karno. Rakyat benar-benar bisa merasakan betapa merdekanya dirinya. Bisa menikmati hasil sumber daya tanah air serta keberlimpahannya. Enam puluh lima tahun yang lalu itu pun telah membuat Indonesia menjadi aktor penting dalam dunia internasional karena kegigihan Bung Karno yang terus menentang segala arus paham Blok Barat. Sehingga membuat militer Indonesia menjadi salah satu yang ditakuti. Dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin kurun waktu 1953-1963 pernah ditandai dengan aroma diplomasi cantik dan elegan, disertai dengan kebijakan para pemimpin yang tidak mau didikte dan tunduk pada Amerika. Kurun waktu itulah bangsa mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya.
Enam puluh lima tahun berlalu membuat bangsa ini semakin jauh dari rasa ‘merdeka’. Mungkin memang juga dikarenakan sejarah yang semula anti-AS menjadi Negara yang pro-AS pada era Seoharto. Kurun waktu Presiden Soeharto telah membawa pribumi tanah air tergeser rasa kemerdekaannya. Soeharto menjual asset-aset tanah air kepada investor-investor asing. Semakin munculnya gedung-gedung bertingkat yang berdiri di atas lahan produktif. Malahan di sini, adanya pergeseran kemerdekaan dari pribumi ke bangsa asing. Maksudnya?. Bangsa asing bisa leluasa memanfaatkan sumber daya tanah air kita, menjualnya dan uang hasil penjualan untuk pembangunan di Negara asalnya. Sedangkan kita sebagai bangsa pribumi semakin terhimpit dan semakin sulit untuk memperoleh akses sumber daya. Siapa yang merdeka?. Jelas sudah, bangsa lain. Indonesia adalah bangsa dan Negara yang besar. Gemah ripa loh jinawi katanya. Mungkin kita masih belum bisa memanfaatkannya dan celakanya bangsa asing yang pandai memanfaatkannya. Pernah Bung Karno berkata, ‘biarkan sumber daya tanah air kita ini sampai bangsa kita memiliki teknologi untuk megeksplorasinya’. Tetapi tentunya kita tidak akan terus menyalahkan sejarah. Hendaknya sejarah dijadikan pelajaran untuk masa depan kita.
Relfleksi 65 Tahun Merdeka
Di enam puluh lima tahun umur berdirinya Negara ini masih banyak masalah-masalah yang tak kunjung terselesaikan. Dari era Bung Karno sampai era SBY, haruslah kita melihat lagi, perjalanan bangsa ini. Karena dari situ bisa kita jadikan refleksi usaha bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Kita harus meluruskan arah tujuan kita kembali, yg selama ini melenceng karena ulah kita sendiri. Tujuan yg telah kita sepakati 65 tahun yg lalu.
Umur yang sudah mencapi lebih dari setengah abad ini ternyata masalah penggangguran tak kunjung usai. Sesuai dengan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memperkirakan dalam lima tahun ke depan gambaran soal angka pengangguran di Indonesia masih akan suram karena tidak tersedianya lapangan kerja. Masalah hukum pun masih menjadi menu utama saat ini. Hukum masih belum bisa berdiri tegak terlihat dari kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. Hendaknya kita perlu lagi memahami kesepakatan kita yang telah dirintis dan dicita-citakan oleh para fouding fathers kita bahwa ‘Indonesia adalah Negara hukum bukan Negara yang berdasarkan kekuasaan belaka’. Semakin mudahnya saja seorang terdakwa lolos dari jeratan hukum dikarenakan hukum yang selalu memihak si kaya Semua masalah pelik yang selalu muncul menghantui tanah air kita hendaknya semua itu dijadikan sebuah pelajaran bagi kita dan mencoba untuk bangkit kembali.
Di saat seperti ini, mungkin kita rindu Indonesia 65 tahun yang lalu yang bisa merasakan kemerdekaan dalam setiap individu. Tetapi sungguh disayangkan enam puluh lima tahun yang lalu itu tidak bisa dirasakan lagi. Merdeka..…merdeka!! Dirgahayu Republik Indonesia ke-65. ‘Janganlah kau berpikir tentang apa yang diberikan Negara kepadamu, melainkan berpikirlah apa yang bisa kau berikan untuk negara’.
Saturday, 14 August 2010
Security Dilemma Konflik Dua Korea
By : Triono Akhmad Munib
“Jika mereka (Korsel) berani menyulut perang, kami akan menghancurkan mereka tanpa ampun”. Itulah sekilas cuplikan pernyataan dari Komite Reunifikasi Damai Ibu Pertiwi Pyongyang, Korut. Konflik dua Korea tersebut merupakan buah hasil dari konflik era cold war (perang dingin) antara AS dan Uni Soviet pada saat itu. Di mana, saling berebutnya kedua negara tersebut akan paham yang dibawanya, yaitu komunisme dan liberalisme. Hasil perselisihan paham tersebut membawa Korut jatuh pada Uni Soviet menjadi negara berpaham komunis, sedangkan Korsel jatuh kepangkuan liberalis oleh AS. Namun selepas kedua Korea tersebut merdeka konflik tak kunjung menemui perdamaian hitam di atas putih secara formal dan legal. Memang sampai saat ini belum ada pakta perdamaian kedua Korea tesebut secara formal. Konflik kedua Korea tersebut sempat reda sejenak tetapi konflik muncul kembali kepermukaan setelah terjadi insiden penembakan kapal selam Kosel Cheonan oleh militer Korut di Laut Kuning pada 26 Maret lalu
Ancaman Perang
Dengan adanya insiden di atas membawa konflik di masa lalu muncul kembali. Pihak Korsel merasa bahwa perbuatan militer Korut dengan merudal kapal selamnya merupakan sebuah perbuatan yang tidak bisa ditoleransi. Korut memulai untuk menyulut sebuah peperangan dua Korea. Namun, pihak Korut tetap berkilah bahwa tindakan militernya tidak salah karena kapal selam Korsel sudah melewati batas yang ditentukan sehingga Korut merasa terancam dengan kedatangan kapal selam Cheonan tersebut. Tiga bulan setelah insiden itu, Korsel melakukan operasi latihan militer besar-besaran dengan bekerjasama dengan militer AS di perbatasan Laut Kuning. Korsel terus meningkatkan anggaran belanja militernya dan terus menciptakan serta mengembangkan alat utama sistem senjata (alutista). Korut pun tak mau kalah, pihaknya juga terus melakukan pengembangan Taepodong-nya
Upaya Korsel dan Korut tersebut membawa kita kepada konsep security dilemma (dilema keamanan). Security Dilemma adalah suatu keadaan ketergantungan pada persenjataan yang menjadi kebijakan suatu negara yang seolah-olah demi kepentingan pertahanan suatu negara padahal untuk mengancam negara lain. Ancaman persenjataan yang menyebabkan negara lain tertekan karena adanya ancaman ancaman tersebut, menyebabkan negara yang tertekan tersebut membuat kebijakan untuk meningkatkan nilai persenjataanya baik dari segi jumlah, maupun kualitasnya. Seoul mencoba menekan dan menakuti pihak Pyongyang dengan menggelar latihan militer massal. Korut pun mencoba untuk mengimbangi Korsel dengan menggelar latihan militer massal pula
Ternyata, dampak dilema kemanan tidak berhenti pada kedua Korea. Letak Korsel dan Korut yang langsung berbatasan dengan China membuat pihak Beijing juga kebakaran jenggot. Beijing merasa terancam pula dengan adanya peningkatan aktivitas militer kedua Korea. Kedaulatan negara China merasa terancam. Sesuai berita yang dilangsir Kompas pada hari Jum’at 6 Agustus 2010 diberitakan bahwa Beijing telah kembangkan rudal penghancur kapal induk Dong Feng DF-21D balisitik jarak menengah berhulu ledak konvensional . Untuk siapa? Ya, untuk mengatasi kekuatan kedua Korea jika suatu saat nanti perang akan meletus. Apalagi rudal Korut Taepodong-2 memiliki daya jangkau 4000-6000 km dengan efek ledakan mencapai 15000 km. Bahkan pihak AS mengklaim bahwa Taepodong-2 bisa mencapai AS. AS yang letaknuya sangat jauh saja bisa terjangkau, bagaimana dengan China yang langsung berbatasan darat dengan Korut. Memang konsep dilema kemanan ini merupakan sebuah konsep kekhawatiran. Jika ada suatu negara yang meningkatkan aktivitas militer dan menaikkan anggaran militernya maka secara tidak langsung negara tetangga akan merasa terancam. Selalu muncul pertanyaan-pertanyaan ketakutan. Mengapa negara itu meningkatkan aktivitas militernya?, untuk apa?, ditujukan kepada siapa?. Maka mau tidak mau negara tetangga harus mewaspadai dan bersiap siaga dengan ikut meningkatkan kegiatan militernya jika suatu saat serangan itu ditujukan kepadanya maka siap untuk beperang. Hendaknya tanah air kita perlu meningkatkan kegiatan militernya karena sudah terdengar isu perebutan klaim atas Laut Cina Selatan oleh pihak Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Filipina, Taiwan dan juga China sendiri. Bukan tidak mungkin konsep dilema keamanan menghantui Indonesia.
“Jika mereka (Korsel) berani menyulut perang, kami akan menghancurkan mereka tanpa ampun”. Itulah sekilas cuplikan pernyataan dari Komite Reunifikasi Damai Ibu Pertiwi Pyongyang, Korut. Konflik dua Korea tersebut merupakan buah hasil dari konflik era cold war (perang dingin) antara AS dan Uni Soviet pada saat itu. Di mana, saling berebutnya kedua negara tersebut akan paham yang dibawanya, yaitu komunisme dan liberalisme. Hasil perselisihan paham tersebut membawa Korut jatuh pada Uni Soviet menjadi negara berpaham komunis, sedangkan Korsel jatuh kepangkuan liberalis oleh AS. Namun selepas kedua Korea tersebut merdeka konflik tak kunjung menemui perdamaian hitam di atas putih secara formal dan legal. Memang sampai saat ini belum ada pakta perdamaian kedua Korea tesebut secara formal. Konflik kedua Korea tersebut sempat reda sejenak tetapi konflik muncul kembali kepermukaan setelah terjadi insiden penembakan kapal selam Kosel Cheonan oleh militer Korut di Laut Kuning pada 26 Maret lalu
Ancaman Perang
Dengan adanya insiden di atas membawa konflik di masa lalu muncul kembali. Pihak Korsel merasa bahwa perbuatan militer Korut dengan merudal kapal selamnya merupakan sebuah perbuatan yang tidak bisa ditoleransi. Korut memulai untuk menyulut sebuah peperangan dua Korea. Namun, pihak Korut tetap berkilah bahwa tindakan militernya tidak salah karena kapal selam Korsel sudah melewati batas yang ditentukan sehingga Korut merasa terancam dengan kedatangan kapal selam Cheonan tersebut. Tiga bulan setelah insiden itu, Korsel melakukan operasi latihan militer besar-besaran dengan bekerjasama dengan militer AS di perbatasan Laut Kuning. Korsel terus meningkatkan anggaran belanja militernya dan terus menciptakan serta mengembangkan alat utama sistem senjata (alutista). Korut pun tak mau kalah, pihaknya juga terus melakukan pengembangan Taepodong-nya
Upaya Korsel dan Korut tersebut membawa kita kepada konsep security dilemma (dilema keamanan). Security Dilemma adalah suatu keadaan ketergantungan pada persenjataan yang menjadi kebijakan suatu negara yang seolah-olah demi kepentingan pertahanan suatu negara padahal untuk mengancam negara lain. Ancaman persenjataan yang menyebabkan negara lain tertekan karena adanya ancaman ancaman tersebut, menyebabkan negara yang tertekan tersebut membuat kebijakan untuk meningkatkan nilai persenjataanya baik dari segi jumlah, maupun kualitasnya. Seoul mencoba menekan dan menakuti pihak Pyongyang dengan menggelar latihan militer massal. Korut pun mencoba untuk mengimbangi Korsel dengan menggelar latihan militer massal pula
Ternyata, dampak dilema kemanan tidak berhenti pada kedua Korea. Letak Korsel dan Korut yang langsung berbatasan dengan China membuat pihak Beijing juga kebakaran jenggot. Beijing merasa terancam pula dengan adanya peningkatan aktivitas militer kedua Korea. Kedaulatan negara China merasa terancam. Sesuai berita yang dilangsir Kompas pada hari Jum’at 6 Agustus 2010 diberitakan bahwa Beijing telah kembangkan rudal penghancur kapal induk Dong Feng DF-21D balisitik jarak menengah berhulu ledak konvensional . Untuk siapa? Ya, untuk mengatasi kekuatan kedua Korea jika suatu saat nanti perang akan meletus. Apalagi rudal Korut Taepodong-2 memiliki daya jangkau 4000-6000 km dengan efek ledakan mencapai 15000 km. Bahkan pihak AS mengklaim bahwa Taepodong-2 bisa mencapai AS. AS yang letaknuya sangat jauh saja bisa terjangkau, bagaimana dengan China yang langsung berbatasan darat dengan Korut. Memang konsep dilema kemanan ini merupakan sebuah konsep kekhawatiran. Jika ada suatu negara yang meningkatkan aktivitas militer dan menaikkan anggaran militernya maka secara tidak langsung negara tetangga akan merasa terancam. Selalu muncul pertanyaan-pertanyaan ketakutan. Mengapa negara itu meningkatkan aktivitas militernya?, untuk apa?, ditujukan kepada siapa?. Maka mau tidak mau negara tetangga harus mewaspadai dan bersiap siaga dengan ikut meningkatkan kegiatan militernya jika suatu saat serangan itu ditujukan kepadanya maka siap untuk beperang. Hendaknya tanah air kita perlu meningkatkan kegiatan militernya karena sudah terdengar isu perebutan klaim atas Laut Cina Selatan oleh pihak Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Filipina, Taiwan dan juga China sendiri. Bukan tidak mungkin konsep dilema keamanan menghantui Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)